Powered By Blogger

Laman

FOTO

  • FOTO FOTO

Senin, 10 Oktober 2011

subsidi ?

Apabila pemerintah berhasil menerapkan pembatasan konsumsi Premium untuk mobil di wilayah Jawa-Bali, pada April 2012, maka jumlah anggaran yang bisa dihemat pada tahun itu mencapai Rp4,9 triliun.

MENTERI Keuangan Agus Martowardojo, menjelaskan pengaturan volume konsumsi Premium akan menghemat anggaran Rp 4,9 triliun. “Jika ini berhasil, maka total subsidi BBM pada 2012 hanya sebesar Rp 118,7 triliun atau lebih rendah dari usulan awal sebesar Rp 123,6 triliun,” jelas Agus dalam rapat dengan Badan Anggaran (Banggar) DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (10/10/2011).

Dengan adanya penghematan anggaran subsidi BBM itu, maka uang hasil penghematan itu rencananya akan dipakai untuk cadangan risiko fiscal oleh pemerintah. “Namun bentuknya masih usulan. Harus disetujui Badan Anggaran (Banggar) DPR terlebih dulu,” katanya.Mulai bulan Maret 2011, akan diberlakukan pelarangan terhadap mobil pribadi untuk mengkonsumsi BBM bersubsidi. Regulasi itu mulai diberlakukan di wilayah Jabodetabek dan akan mencakup seluruh Indonesia secara bertahap.

Kenaikan BBM akibat pengurangan subsidi sebenarnya bukan karena keterbatasan sumber daya alam. Indonesia adalah negara yang berkecukupan dalam hal sumber daya minyak. Menurut data BP Statistical Reviews of World Energy, Indonesia menduduki peringkat ke-27 di antara negara-negara penghasil cadangan minyak dunia dengan jumlah cadangannya sebesar 4,4 miliar barel dan produksinya 1021 ribu barel/hari. Namun yang ironis, perusahaan minyak negara (dalam hal ini Pertamina) hanya memanfaatkannya sebesar sekitar 18% nya saja, sisanya adalah perusahaan-perusahaan asing seperti Chevron (44%), Total E&P (6%), Conoco Philip(6%), dan lain-lain.

Karut-marutnya pengelolaan minyak

Terdapat beberapa kebijakan pengelolaan Pertamina yang sebenarnya inefisien. Hal ini karena Pertamina cenderung mengimpor minyak mentah dan BBM melalui jasa rekanan yang sarat dengan manipulasi tender oleh pihak Pertamina dengan para trader sehingga biaya pengadaan minyak impor semakin mahal.

Dalam penjelasan sebelumnya, Agus Marto mengungkapkan, mau tidak mau pemerintah harus memberlakukan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi, karena setiap tahunnya konsumsi bensin Premium selalu naik 8 persen. “Jika tidak dilakukan pembatasan, maka konsumsi BBM subsidi di 2012 bisa mencapai 43,7 juta kiloliter (KL),” ujarnya.

Sebaliknya, dengan adanya pembatasan konsumsi Premium untuk mobil di Jawa-Bali, maka volume konsumsi BBM subsidi bisa ditekan hingga 37,8 juta KL (22,2 juta KL Premium dan 15,6 juta KL minyak tanah & solar).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar